Page

Rabu, 13 Juni 2012

Samudera Ilmu











Kalau keris adalah gubahan bentuk keras dari simbol ilmu. 
Bersiaplah untuk menusuk siapapun.. 
~Ken Arok~


Kalau Bidadari adalah gubahan lain dari hakekat ilmu.. Bersiaplah untuk terpesona. 
~Ratu Kidul~


Kalau ilmu kemudian mengubah dirinya menjadi Macan Putih. 
Bersiaplah menjadi wibawa.. 
~Prabu Siliwangi~

Kalau ilmu menjadi penyangga atas seribu sukma. 
Kemudian mengubah dirinya menjadi tongkat. Bersiaplah untuk tegas. 
~Nabi Musa~

Kalau ilmu meninggi seperti melihat dengan keluasan jiwa.
 Maka bersiaplah menjadi Garuda.. 
~Surya Kencana~

Kalau ilmu mengamuk wujud dari ketegasan tongkat. 
Maka bersiaplah menjadi Antaboga. 
~Sunan Bonang~

Kalau ilmu membahana terngiang ngiang dalam ingatan jiwa. 
Berlakulah seperti Malaikat.
 ~Jibril~

Kalau ilmu mampu membuatmu mendengar lebih jernih. Tidurlah bertahun tahun.. 
~Kumba Karna~

Kalau ilmu mengubah dirinya menjadi tua dan bijak. 
Duduklah diaura kerendahan yang menua.. 
~Sunan Ampel~

Kalau ilmu melebur menjadi partikel2 kejernihan suci. 
Putarlah partikel2 kesucian menjadi pegangan. 
~Tasbih Sunan Kudus~

Kalau ilmu berwujud sumpah kesetiaan. Dan ia bertekad bulat.. 
Bersiaplah menjadi Patih..! 
~Gajah Mada~

Kalau ilmu menginginkanmu menjadi rendah dan hina.
 Bersiaplah menjadi pelayan yang setia..
 ~Semar~

Kalau ilmu itu terbukanya tirai cakrawala. Yang ia temui adalah hakekat segala sesuatu. Bersiaplah menjadi pembawa kabar..
 ~Rasulullah~

Kalau ilmu dapat menundukkan semesta merah dan biru.
 Bersiaplah sumpah untuk kematian. 
~Syekh Subakir~

Kalau ilmu menjadi kendaraan yang mengantarkanmu kemanapun. 
Sesungguhnya kau sudah dapat onta. 
~Nabi Shaleh~

Kalau ilmu lahir dari dirinya sendiri tanpa sentuhan makhluk. 
Engkau adalah Maryam.. 
~Nabi Isa~

Kalau ilmu dapat mengantarkanmu menerobos ruang waktu. 
Bersiaplah menjadi Dewa.
 ~ Bhatara Kala ~

Kalau ilmu melupakan asal usul dan jati diri. Ia menguasaimu.. 
Kau sudah menjelma Kurawa 
~ Puntadewa~

Kalau ilmu menjadikan orang sekitarmu mengejar. 
Kau lah rahim dari segala cahaya. 
~ Ken Dedes ~

Kalau ilmu membentuk dirinya menjadi rangkaian kata yang mencerahkan. 
Bersiaplah menjadi Quran berjalan. 
~Ustman R.A.~

Kalau ilmu memaksamu menjadi diri sendiri. 
Bersiaplah untuk tidak dinilai apapun dari siapapun. 
~ShangHyang Tunggal~

Kalau ilmu membuatmu cerdas dan mencerdaskan. 
Jadilah kau penjaga pintu2 cahaya.. 
~ Sayyidina Ali ~

Kalau ilmu menjelma menjadi jasad yang kuat. 
Bersiaplah menjadi benteng dibarisan terdepan.. 
~Umar bin Khatab~

Kalau ilmu dapat menganggap diri orang lain adalah dirimu sendiri. 
Kau telah faham arti saudara.. 
~Nakula Sadewa~

Kalau ilmu mengantarkan mu kesegala arah. Bahkan atas dan bawah. 
Justru hakekatnya kau ada dimana mana. 
~Kliwon~

Kalau ilmu melepaskanmu dari rasa kamulah wadag pria atau wanita, 
maka kau telah merasakan kematian. 
~Syekh Siti Djenar ~

Kalau ilmu menjadi kata kata yang menggelegar. Membisukan semesta. 
Kau pasti paham itu suaraNya. 
~Ki Nabi Daud~

Kalau ilmu mampu menenggelamkan gunung ke dasar samudera. 
Kau tau arti sebuah kedalaman2. 
~Nabi Khidir~

Kalau ilmu mengubah wujudnya menjadi sujud penyesalan. 
Sesungguhnya kau membangunkan mentari. 
~Nabi Adam~

Kalau ilmu melahirkan anak anak pembawa cahaya. 
Sungguh anak anak itu para ksatria pandawa. 
~Pandu bin Bulan~

Kalau ilmu menjadi penghubung langit dan bumi. 
Kau tidak berdiri diatas bumi dan dibawah langit. 
~Nabi Sys~

Kalau ilmu tidak menghanyutkamu dalam api amarah. 
Jadilah kau hawa dingin.. 
~Nabi Ibrahim~

Kalau ilmu menugaskanmu menjaga aliran cahaya 
dengan tekad tongkat yang tertancap pada keyakinan. Kaulah Aku. 
~Sunan Kalijogo~

Kalau ilmu mewujud sebagai pengorbanan atas berdirinya pondasi bangunan cahaya, 
kau seperti ayahku. 
~Nabi Ismail~

Kalau ilmu menunjukkan arah ke pusat sujud manusia dengan tegas. 
Kau adalah alif horizontal. 
~Telunjuk Semar~

Kalau ilmu mengubah dirinya dari rasa hina ke derajat yang lebih tinggi. 
Bersiaplah menjadi raja yang mempesona. 
~Nabi Yusuf~

Kalau ilmu mengubah dirinya menjadi tumbal atas kebenaran yang hak. 
Kau percaya akan takdir. 
~Wisanggeni~

Kalau ilmu mengantarkanmu melintasi nama2 semesta. 
Maka yang kau nanti adalah ujungnya. Kesabaran. 
~ Asmaul Husna~

Kalau ilmu menjelma menjadi kebinatangan yang licik. 
Kau dapat meruntuhkan ilmu tertinggi. 
~Hanoman~

Kalau kau adalah aku.. Kau bisa mengubah dirimu sendiri menjadi apapun dan siapapun. Melintasi apapun. 
~ ilmu ~

Kalau ilmu mengubah dirinya menjadi air. Kau dapat hidup tanpa haus sedikitpun. 
Hidup dan menghidupkan. 
~ WijayaKusuma~

Kalau ilmu menjelma menjadi ke elokan yang menawan. Cantik tak terkira. 
Menjelma benda2. Bersiaplah untuk kagum. 
~ Ratu Pantai Utara~

Kalau ilmu dapat mengubah dirinya menjadi rindu. 
Ia bersemayam dalam jiwa tenggelam di tarian2 cinta. 
~Jalaluddin Rumi~

Kalau ilmu mengubah dirinya menjadi angka. Ia tertinggi. 
Gabungan antara nol dan satu. Hidup dan mati. Sempurna. 
~Sembilan~

Kalau ilmu mengubah dirinya menjadi sangat galak. Seperti Umar yang mengamuk. 
singa yang nanar. Kau adalah aku. 
~Prabu Kian Santang~

Kalau ilmu mengubah dirinya menjadi Istana Sulaiman. Kemakmuran Mesir. 
Dan Seluruh Kerajaan. Aku berpindah2 tiap zaman. 
~ Arsy~

Kalau ilmu menjelma menjadi buku2 yg tertulis, ingatlah yg menulisnya. 
Dengan apa ia menulisnya. Aku yangg merangkainya. 
~ al Qolam~

Kalau ilmu mengubah dirinya menjadi Gerbang. 
Bersiaplah kau melintasiku untuk menyaksikan semuanya. 
~ Syahadatain~

Kalau ilmu mengubah dirinya menjadi batu. 
Meskipun sudah mati, aku tetap mewangi sepanjang zaman.
 ~ Hajar Aswad~

Sebab ilmu itu cahaya berlapis, pada lapisan tertentu ia menjelma apa saja. 
Asal kau dapat Mi'raj setiap saat. 
~ Lapisan Langit ~

Kalau ilmu menjelma doa2 rahasia tentang jagad raya. Tidak perlu duduk dibarisan depan. Cukup berjajar dengan barisan rak2 sandal. 
~Wali Qutb~

Seribu tafsir tentang al Fatihah. Lapisan cahaya pertama buat si anu. Kedua buat dia. 
Ketiga buat fulan. Buatku? Tidak ada. 
~Wali Qutb~

Kalau ilmu mengubah bentuknya menjadi wujud. Maka aku adalah air, batu, pohon. 
Bentuk lain dari partikel cahaya. Aku juga Ilmu. 
~ Jagat Raya~

Peluru adalah perubahan bentuk wujud frekwensi ilmu api yang terlepas dari sumbernya yang berupa dendam jiwa.
 ~Sniper~

Aku bukan kesaktian. Hanya simbol ketegasan. 
Yang mengajarkan manusia lebih lurus dari sekedar kata2. 
Sementara diriku sendiri lika liku. 
~Keris~

Keris.. adalah dzat lain dari cahaya yang juga butuh ruang kesunyian. 
Tiap sesuatu memiliki jodoh kesunyiannya masing2..
 ~Warangka~

Terkadang manusia tidak mampu menemukan warangkanya sendiri. 
Tidak mampu menemukan nilai diamnya kematian. Padahal cahayanya semakin pudar. ~Mpu Gandring~

Kalau kau menyimpannya tanpa warangka dan gagang. Itu lah dirimu hari ini. 
Hidup tanpa kesunyian dan pegangan apapun. Ini bahasaku. 
~Keris~

Aku dimandikan bukan untuk dipuja. 
Hanya mengingatkan diri bahwa air seperti saudara kandung dari cahaya. Kesucian. 
~Keris~

Aku sesungguhnya Ruh. Berada didasar jiwa. 
Tercerabutnya aku dari kerangka wadag akan bermakna kematian.. 
~Keris~

Sedikit saja mencicipi air.
 ia segera mengingat samudra, mata air, sungai dan danau. 
Sekali ketuk. Seribu pintu terbuka. 
~Laduni~

Rabu, 21 Maret 2012

awalnya..



Bermula cahaya. Kemudian merasuk ke dalam sanubari.. tenggelam dalam rasa. Mulai lah mencari dan mencari..

Setiap manusia yang bertemu mengatakan hal yang sama. Siapapun dia. Meski hanya beberapa. Entah.. mereka seperti saudara..

Urusan beda baju dan warna pakaian sudah bukan masalah. Karena memang yang dibicarakan memang bukan itu. Tapi rasa..

Kalau sepi tetap ada yang menemani. Seperti patner bicara. Seperti khayalan. Tapi ternyata pertanyaan..

Pertemuan bisa dimana saja. Kapan saja. Seperti sudah diatur. Sudah ada jalur, manusianya saja yang banyak ngelantur..

Paling orang lain melihat dengan aneh. Seperti melamun . diam tapi berbicara..

Kalau sudah bertemu guru jangan dulu gembira. Karena maling dan guru justru kadang tiada beda.

Nafsu sumber dari segala air mata penyesalan. Cek dulu sebelum berangkat. Sesederhana itu namun tetap saja berat.

Kalau dapat ilmu jaga omongan. Seperti biasa… punya sedikit disangka banyak..

Ingat diri ingat teman . siapa yang mengantarkan harus dihormati.. karena dia adalah jembatan.

Jembatan jangan sampai putus. Sebab bukan kita yang mencari. Tapi dicarikan.. masa mau dibuang..

Awalnya gembira. Lupa daratan.. kalau melewati batas tetap sama saja dengan yang lainnya..

Jangan pernah merasa istimewa.. apapun yang terlihat ataupun yang terdengar.. karena beningnya hati tidak ada ukuranya..

Kalau asalnya air tetap saja air..

Hari ini hidayah besok murka siapa yang sangka..

Kalau nanti kembali menjadi tanah kenapa tidak mulai dari sekarang belajar menjadi tanah?

Yang mashur bukan berarti itu.. yang itu juga bukan pasti yang tidak mashur..

Perjalanan masih panjang.. 

Sabtu, 04 Februari 2012

Tanda Hitam Di Kening




Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)
Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701)

Ada beberapa riwayat lagi berbicara tentang hal ini.. Saya sesungguhnya husnu dzan kepada siapa yang di dahinya terdapat tanda hitam yang disebabkan oleh dari banyaknya sujud yang dia kerjakan. Mudah mudahan husnu dzan saya merupakan perasangka yang menjadi doa. Harapannya adalah barangkali saya juga ketularan ikut taat dan banyak bersujud seperti yang dicontoh kan oleh tanda yang seperti itu. Meski jauh didalam lubuk hati juga tidak mengharapkan tanda supaya saya dikenali orang yang banyak bersujud kepadaNya. 

Kalau saya memakai peci putih maka saya dikenali sebagai seorang muslim. Mungkin juga akan dikira sudah naik haji, seperti yang kita sepakati bahwa orang yang memakai peci putih kemudian kita panggil dia sebagai pak haji. Orang akan cepat panggil saya sebagai apa sesuai apa yang atribut itu melekat di tubuh saya. Jas, dasi, kaos partai, surban, tanda salib, kemenyan, mobil sport, jas mahasiswa dan seterusnya.. Karena itulah makna tanda yang kita pahami. 

Bahasa agamanya disebut Riya'. Mungkin juga disebut symbol. Karena kita membuat symbol dan logo supaya gampang dikenali dan diingat orang tentang apa yang kita usung pada symbol tsb. 

Adalah seorang Kyai menasehati santrinya yang kasyaf. Dimana mata bathin atau bashirahnya terbuka sedikit untuk melihat sesuatu yang oleh ahli tasawuf merupakan hal khusus bil khusus. Rahasia yang tidak bisa dibicarakan kepada sembarang orang. Nanti bisa riya'.. Kata sang kyai. 

Singkatnya, seseorang yang mempunyai mata bathin kemudian dia gampang membeberkan kepada orang lain itu tidak diperbolehkan.    
Karena potensi membeberkan hal yang bersifat anugrah yang katanya rahasia ini sama saja dengan orang yang mempunyai tanda hitam dikeningnya. nanti ditandai orang. Ditandai sebagai orang yang paling ta'at kemudian di kasih anugrah oleh Allah. Sebab, bila seseorang ditandai sebagai orang yang istimewa sama dengan seorang yang dianugrahi harta yang melimpah. Mungkin saja tidak ada niat untuk sombong dan riya. Namun potensi untuk berbuat kesombongan bisa datang kapan saja lantaran ia mempunyai materi atau bahan yang dapat disombongkan...

Rabu, 01 Februari 2012

kebetulan adalah kebenaran..





Ada satu hal yang menarik pada tragedi tabrakan Xenia di Tugu Tani. Beberapa hari setelah itu saya menulis akun ditwitter. Bahwa angka yang "nyangkut" saat itu berjumlah angka 4. Tanggalnya 22 januari. 2+2= 4. Jam kejadian yang saya baca di salah satu koran nasional jatuh pada pukul 10.30. 1+0+3+0= 4. Hari itu juga jatuh pada weton yang berjumlah 13. 1+3 = 4. Hari itu hari minggu kliwon. Minggu 5, kliwon 8. Jumlahnya 13 tadi. Bahkan, Nomer polisi xenia na'as bernomor B.2479. juga kalau dijumlah berangka 4. 2+4+7+9 = 22 = 4.  Jumlah korban tewas dan luka2 juga berjumlah 13. 9 orang meninggal 4 lainnya luka luka. 9+4 = 13 artinya 1 + 3 = 4 lagi. 

Sebenarnya waktu peringatan seratus hari wafatnya alm Russ Dilts di Jakarta. yang ia merupakan aktivis pertanian. bertepatan dengan kejadian xenia maut tsb. Ada kesamaan ruang dan waktu. Tani dan kematian. Kalau kita pergi ke gedung2 dijakarta, hampir dapat dipastikan kita tidak menemui lantai 4. Mereka mensiasati dengan lantai 3a dan 3b atau lantai M (mezzanine) atau bahkan tidak ada lantai berangka 4 sama sekali. Menurut perhitungan china bahwa angka 4 merupakan kematian. Lalu, apakah kejadian2 yang seolah kebetulan itu merupakan kematian tani?


Padahal Petani bahasa arabnya Fallah.. Orang yang beruntung atau keberuntungan. Pepatah arab mengatakan bahwa Petani adalah raja sesungguhnya, pun sekarang tidak berlaku lagi. 
Jadi teringat kisah Nabi Musa yang bermunajat kepada Allah selama 40 malam. Nabi Musa mungkin ketika itu putus asa yang luar biasa. Sampai minta keputusan jalan terus atau tidak. Mati atau hidup. Untung atau rugi. Lalu? Apakah makna angka 4 adalah kematian atau pilihan? gambling? Hidup atau mati? Bisa saja orang china mengartikan bahwa tafsir angka 4 merupakan kematian karena takut gambling. Biar tidak ambil resiko disebut saja angka itu kematian. Atau angka 4 seperti halnya tirakat Nabi Musa selama 40 malam. Bahwa tirakat dan munajat adalah masa masa kepompong, kosong, puasa tidak hura hura. Kalau berhasil maka kemenangan yang didapat. Kalau tidak, maka kematian. 
Seperti halnya bilangan unik untuk masa setelah perceraian atau kematian yang ditetapkan Allah. Arba'ata asyhur wa asra. Empat bulan sepuluh hari. Kenapa Allah gak bilang lima bulan saja biar genap? Kok ada 'ganjilan' hari tambahan sepuluh hari. Yang hasilnya maka ternyata berjumlah 130 hari. Jumlahnya juga 4.  Masa masa itu juga adalah masa tirakat, munajat, perenungan. Apakah juga berlaku kepada petani bahwa hari hari ini adalah masa masa perenungan. Nunggu selesai hari "iddah"nya..

Kamis, 19 Januari 2012

Mazhab Tarekat



Seorang Kyai di salah satu pesantren di daerah Kediri berbicara pada pertemuan siang didepan para santri senior. Ia mengatakan bahwa kalau ada seseorang ingin berangkat ke Jakarta dengan mengendarai gerbong kereta, berarti ia sama dengan ber Islam dengan menganut salah satu madzhab. Untuk orang seperti kita, lebih baik naik rombongan gerbong saja daripada pusing sendiri memilih lewat arah mana menuju jakarta. Apalagi tidak cukup punya ilmu untuk kenal arah mana dan lewat mana ke jakarta itu.

Istilah madzhab yang asal katanya adalah zahaba bermakna pergi. Maka mazhab dapat diartikan sebagai tempat tujuan pergi. Sepertinya cocok sekali perumpamaan yang dipakai oleh sang kyai untuk menggambarkan kata tsb. Kata ini memang sangat populer untuk aliran fiqhiyah. Dimana fiqih adalah salah satu ruang dalam islam yang berbicara tentang hukum syariat beserta tata cara ibadah. Baik ibadah sosial maupun ibadah personal hamba kepada Tuhannya.

Ada istilah lain dalam islam yang tidak kalah populernya dengan kata Mazhab. Yaitu istilah tarekat. Asli kata ini  berbunyi thariqah atau thariq yang bermakna tata cara atau jalan. Sebenarnya kata syariat juga bermakna jalan. Meski kata syariat berbeda makna pada bentuk jalan yang lebih besar dari thariq. Seperti perbandingan jalan utama dalam kota atau disebut jalan raya dan jalan di pedesaan.  Dimana ukurannyalah yang berbeda. Jalan raya lebih besar, lebar dan ramai sementara jalan pedesaan lebih kecil dan cenderung sepi.

"Setiap orang pasti bersyariat dan belum tentu semua yang bersyariat itu juga bertarekat.."  Saya sering dengar kata ini.

Lalu apakah tarekat?

Kata teman saya, " Anda tidak mungkin melukiskan apa yang dibicarakan tarekat terkecuali anda seorang pelaku didalamnya.. Bagaimana mungkin seorang hamba sahaya dapat dikasihi oleh tuannya dapat dilukiskan dengan kata kata. Ini urusan rasa dan akhlak. Dimana norma, nilai, juga semacam rasa takut, cemburu, jatuh cinta, rindu tidak dapat dirumuskan oleh suatu hukum dan aturan.  Meskipun bisa, tetap saja anda harus mencicipi rasa sambel untuk tau rasanya.
Maka yang dibicarakan dalam hal tarekat ini adalah panduan untuk menemukan partikel sambel, ramuan apa saja yang diperlukan, alatnya, berapa dosis dari cabai dan jenisnya serta cara mengaduknya hingga menjadi satu kesatuan utuh sampai partikel tersebut sudah dapat dikatakan sambel. Silahkan anda ceritakan rasanya.." 

Menurut saya, istilah tarekat sebenarnya sama maknanya dengan kata mazhab tadi. Ketika seseorang merasakan salah, kerinduan, cinta kasih terhadap sesuatu, selalu saja orang itu dapat melampiaskan perasaannya terhadap apa yang dirasakan. Mereka punya cara tersendiri untuk memanage rasa. Nah.. Cara orang orang inilah yang  diikuti banyak orang dikemudian hari.
Tidak heran kedua istilah tersebut selalu diikuti nama seseorang dibelakangnya. Seperti mazhab imam syafi'i, hambali, hanafi dan maliki. Atau tarekat naqhsabandy, sadzali dst.. Tidak suatu hal yang mustahil apabila anda mempunyai cara pengungkapan rasa atau memiliki sebidang ilmu yang kemudian cara cara anda juga diikuti orang lain pada suatu saat nanti. Asalkan.. Anda benar benar menuju Jakarta dan sudah sampai disana dengan cara yang baik..

Nurani

Dont follow your heart...!!


Nurani merupakan kependekan dari nur, yang berarti cahaya. dan aini yang berarti mata. Yakni pancaran cahaya yang bersumber dalam hati manusia. Sebut saja qalbu.. Beberapa ahli tasawuf menyebut qalbu ini merupakan bagian dari sisi ruhani manusia. Ia kerap diartikan hati. Yang dimaksud hati bukanlah berupa hardware manusia yang berbentuk gumpalan daging yang terdapat didalam badan manusia. Ya.. Ia ruhani. Software.. Perangkat lunak dari sistem teknologi yang terdapat pada manusia.

Ada beberapa lapisan dari kata qalbu. Dan beragam nama pula pada lapisan qalbu tsb. Tapi.. Kali ini saya tidak menulis tentang nama dan istilah qalbu beserta penjabarannya.
Kalau kalimat qalbu kemudian disebut juga nurani maka ada kemiripan fungsi dari perangkat keras manusia yang disebut panca indra. Nurani kadang diartikan juga sebagai pandangan mata hati. Selain bisa memandang, qalbu juga bisa mendengar, merasa,menyentuh atau tersentuh dan masih banyak lagi. 


"Gunakan kata hatimu.." 

"Pakailah hati nuranimu.."

Kata kata ini seringkali kita dengar dibeberapa peristiwa kehidupan. 
Ia seolah cahaya kebenaran yang dimiliki dari dalam dasar lubuk hati manusia. Ia seolah tolok ukur benar atau tidaknya suatu perkara. Ia seolah kebenaran sejati ketika manusia dihadapkan dalam memilih sesuatu yang benar atau tidak..
Kalau memang begitu adanya, ketika manusia mempunyai kebenaran sejati dalam dirinya, maka buat apa susah payah para nabi dan rasul dikirim untuk menegakkan kebenaran Tuhan? Sesuatu yang sia sia juga Allah menurunkan Kitab Nya lewat para utusan yang Ia dipilih.

Konon, dahulu ketika manusia mempercayai suatu tradisi bila seorang ibu melahirkan anak perempuan maka ia langsung dibunuh. Karena menurut tradisi setempat pada waktu itu bahwa mempunyai anak perempuan merupakan aib keluarga. Mereka merasa bersalah jika mereka membiarkan hidup para anak anak perempuan. Hati nurani mereka merasa malu. Juga sebaliknya, jika yang kemudian lahir adalah anak laki laki maka menjadi bangga lah mereka..
Sebenarnya pada zaman sekarang pun masih ada kasus demikian dengan model yang berbeda. Sebagai contoh, di beberapa daerah di Indonesia saja, sampai hari ini masih terdapat suku suku yang masih tidak berbaju itu, pun tidak merasa malu, dengan santai mereka berjalan jalan ditempat umum tidak memakai celana. Tidak ada rasa bersalah pada hati nurani mereka.
Pada zaman sekarang, seorang akan merasa malu dan bersalah jika mengenakan pakaian yang dianggap tidak cocok pada moment tertentu. Lalu, di mana letak kebenaran sejati? Apakah itu merupakan hukum peradaban modern dengan beraneka ragam tradisi yang dibuat dan disepakati oleh manusia itu sendiri. Sehingga ia menjadi hukum tertulis atau pun tidak tertulis yang baku. Ketika hukum tersebut dilanggar, maka muncullah perasaan bersalah pada manusia.

Seorang Kyai besar berkata di hadapan ribuan santrinya pada saat pengajian umum. "saya tidak yakin, apakah kita benar benar sesuai dengan pendidikan yang kita jalani ini dengan apa yang dimaksud pendidikan oleh Allah dan Rasulullah.." padahal, Kyai ini cukup sukses diakui oleh berbagai macam negara dengan sistem pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di pesantrennya.

Dari kata kata Kyai ini sebenarnya memakai tolok ukur yang sangat tinggi. Ia memakai kata Allah dan Rasulullah untuk standarisasi mutu dan sistem pendidikan. Lalu bagaimana dengan Hukum Negara? Hukum Sosial? Atau norma norma kehidupan yang dibuat berdasar standar kesepakatan filosofi yang bersumber dari manusia itu sendiri. Jangankan dari Allah, dari Manusia Agung seperti Rasulullah saja tidak... 

Rabu, 18 Januari 2012

Jalan Sirun ( 3 )



Matahari menggelincir kearah barat. Terik panas mentari berangsur surut. Terdengar seretan suara sapu lidi didepan halaman rumah samping warung berdinding bambu. Deru suara angin bergemuruh lewat gesekan daun rimbun pohon besar dibelakang mushalla.. Wanita tua terus saja menyapu lantai tanah tanpa menegur dua lelaki yang duduk dibangku kayu. Sirun memperhatikan suasana depan rumah Mbah Marin yang masih sepi. Sepertinya beliau tidak ada dirumah. 

Sirun menyapa dua lelaki yang duduk dibangku kayu. "sedang menunggu mas? Tinggal didaerah sini atau datang dari jauh? 

"betul mas, kami datang dari daerah Tambun.. Sudah dari tadi menunggu Mbah Marin. Tapi Beliau belum juga datang. Tadi dapat kabar Beliau sedang pergi. Tapi tidak ada yang tau kemana perginya. Kami sudah menanyakan Bang Jawir, ia pembantu Mbah, mestinya ia tau kemana perginya. Padahal, saya sudah lima kali kesini, tapi belum pernah ketemu Mbah Marin. Susah bertemu beliau mas " kata lelaki berbaju biru yang setelah Sirun berkenalan ia bernama Ahsan. Lelaki satunya bernama Rasyid. 

"kalau mau kesini.. Biasanya harus sowan dulu ke Makam Syekh Alydrus Luar Batang , jangan lupa kirim al Fatihah buat Rasulullah, Shohibul Makam dan pasti ke Mbah Marin. Kalian pasti baru pertama kali kesini ya? Saya kasih tau caranya memang seperti itu.. Sudah pernah kesana?? " Ujar Lelaki berpeci putih sambil membawa segelas kopi hitam yang tiba tiba muncul dari balik warung berdinding bambu. Lelaki berambut gondrong tersebut hampir sekujur tubuhnya diselimuti gambar tatto.  tiba tiba ia duduk bersama mereka..  

"Oo.. Mungkin itu yang membuat kami gagal bertemu Mbah Marin selama ini, jadi Mestinya kami ziarah ke Makam Luar Batang dulu ya.. " Ujar Rasyid kepada Bang Jawir.. 

"Memangnya siapa yang menyuruh kalian datang kesini?" Tanya Bang Jawir kepada Rasyid dan Ahsan.

"Guru kami di daerah Tambun Bang.." 

"Kalau kamu.. Siapa namamu??" 

"Saya Sirun Bang.. Saya tidak disuruh siapa siapa, hanya ingin silaturrahmi saja."

"Oo.. Memang tau darimana?"

"Saya tau dari mimpi bang.. Sebelumnya saya tidak tau siapa Mbah Marin.." 

Bang Jawir tidak tanya bagaimana cerita Sirun lebih rinci,  ia menyeruput kopinya. Sambil membakar sebatang rokok kretek, Bang Jawir mengatakan bahwa memang sudah banyak yang datang kesini dengan cara yang aneh. Ceritanya sangat banyak. 

"termasuk dengan cara mimpi kamu itu." Kata Bang Jawir.  





Bersambung..

Selasa, 17 Januari 2012

Remeh jariyah Dua







Dulu.. Ketika bertemu teman lama didaerah Karawang, teman saya mengajak berkenalan dengan salah satu sesepuh didaerah setempat. Ketika mengobrol ngalor ngidul, sampailah titik pembicaraan tentang agama. Entahlah.. Saya lebih suka menyebutnya agama. Tepatnya seputar Tasawuf.. 


Ditengah asyik beliau bercerita tentang "Hakekat" segala sesuatu, tiba tiba ia terdiam sejenak. Kemudian seperti menerawang ke langit dan  berkata. "Sudah ya.. Sampai disini saja. Saya tidak bisa melanjutkan lagi pembicaraan yang kita bahas.. kita beralih ke pembicaraan yang lain saja.."

Saya terdiam. Kemudian dengan rasa penasaran yang tidak diungkapkan, saya menoleh kearah teman saya dengan tanda tanya dikepala. Teman saya yang melihat tanda raut muka penasaran saya, tiba tiba ia berbisik. "Nanti saja biar aku jelaskan.." 

Konon katanya, Beliau Sang Tetua daerah yang tadi memotong pembicaraannya sendiri takut akan apa yang terjadi seperti pada  masa Syeikh Siti Djenar. Bahwa interpretasi murid Sang Syekh berbeda dikemudian hari dengan pemahamannya sendiri tentang  pembahasan tentang "hakekat" segala sesuatu. Dimana mereka yang berbeda itu ternyata bukanlah benar benar murid Sang Syekh. Melainkan hanya beberapa orang yang hadir sekali dua kali saja saat pengajian rutin. Artinya, mereka mendengarkan pembahasan secara parsial, tidak seutuhnya. Yang jadi celaka adalah ketika ilmu yang diterima secara parsial tersebut dijadikan pemahaman serta kongklusi dini yang serta merta..  apalagi disebarkan..

... Aku termenung lama dalam kendaraan menuju Jakarta sampai tiba tiba sadar, tenyata sudah sampai.. " Terima kasih sudah diantar pulang sampai depan rumah, mau mampir kah??  kapan kita kesana lagi...?? " Kataku.

Jumat, 13 Januari 2012

Jalan Sirun.. ( 2 )





Sirun melaju sepeda motornya pelan . Ia memasuki kawasan kediaman Mbah Marin. Jalan yang tidak beraspal disertai dedaunan kering yang jatuh berserakan. Terik matahari berganti teduhnya pepohonan rindang. Sirun menoleh ke arah kanan jalan yang menyerupai lapangan agak besar disertai semak semak dipinggirnya. Dipojok, terdapat gubuk kecil mirip pos ronda. Tidak ada seorangpun disitu. Hanya sebuah tikar dan dua buah bantal dengan beberapa sampah kulit kacang tanah yang bertebaran. 

Sepertinya itu tempat berkumpul orang orang yang berkunjung ke daerah sini. Dibelakangnya, sebuah kolam ikan berukuran sedang, hampir panjang dan lebarnya tiga kali lipat dari ukuran pos ronda yang sengaja diletakkan dibibir kolam. Setengah pondasinya didalam kolam dan setengahnya lagi diluar. 

Pos yang penuh coretan dengan warna  yang tidak beraturan. Beberapa  juntaian tali  yang diikat  kesana kemari. Tali yang membentang diantara tiang itu  terdapat ikatan ikatan kecil ditengahnya  berbentuk simpul lingkaran kecil berjajar.  "Pandanganku menatap aneh ketika jaring jaring jala nelayan terbentang diantara dua pohon besar. Juga beberapa benda yang menggelantung.. Sangat aneh."

"Itu mushala nya..!!" 

Sirun menuju mushala berwarna hijau yang pagarnya juga penuh coretan warna warni.
Coretan  Spidol hitam, biru, pilok warna emas, merah menghiasi tembok bangunan mushala.. Sangat jarang tempat ibadah yang di coret coret seperti itu. 

"Kenapa tidak ada yg menghapusnya? " tutur Sirun dalam hati. 

Dua lelaki duduk di bangku kayu depan warung yang tak dibuka. Sirun hanya melempar senyum kearah dua lelaki itu, konsentrasinya masih mencari cari yang mana rumah Mbah Marin. Tepat di depan Mushalla samping bekas bangunan warung berdinding bambu terdapat sebuah rumah tua.

"Aneh! Apakah ini rumah Beliau? " 

Sirun menatap rumah tersebut dengan penuh pertanyaan dalam benaknya. Bagaimana tidak? Kondisi rumah yang tidak berpintu dan hanya ditutupi selembar korden usang. Dinding rumah banyak sekali coretan tak beraturan, kali ini bukan hanya tulisan berwarna, tapi juga gambar gambar aneh yang sungguh tidak ia pahami. Seperti coretan anak anak pada dinding rumah. Terlebih lagi terbentang diatas tiang depan rumah beberapa jala nelayan, bentuknya usang. Tali yang diikat ikat seperti yang terdapat dipos tadi terdapat dimana mana. Jumlahnya pun lebih banyak. Karung karung yang ditempel didinding entah berisi apa juga menambah kejanggalan. 

Rumah itu terlihat sepi.. Tidak ada banyak aktifitas kecuali lalu lalang orang lewat depan rumah yang merupakan jalan umum antara rumah beliau dan Mushalla. Sirun berwudhu dan shalat ashar..  Ternyata coretan tidak ada dalam Mushalla.. Hanya diluarnya saja..  

Konsentrasi Sirun pecah usai shalat.. Pikirannya masih bertanya tentang tempat itu. biasanya, ia duduk agak lama sambil berdzikir dalam hati seusai shalat. Tidak terasa lelah setelah satu jam berkendara untuk sampai ketempat itu. Tapi rasa penasaran yang sangat mengalahi keinginannya untuk sekedar meluruskan kaki istirahat. 

"ah.. Jangan sampai aku terlalu nafsu ingin cepat cepat menemuinya, bisa saja ia benar orang suci. Dan kesucian tidak akan dijumpai dengan hasrat nafsu besar manusia. Atau aku akan kecewa bila keinginan dan harapan berlebih tetap aku pelihara dalam dadaku.. " Sirun menatap kosong kearah rumah Mbah Marin lewat jendela mushala.



Bersambung...